Monday, May 29, 2017

Orang Jawa di Singapura

Sejarah (1825 – 1985). Sejumlah orang Jawa didatangkan ke Singapura sejak 1825 [Johari, 1965]. Mereka berasal dari Jawa Tengah, dan mereka dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan karet, jalur kereta api dan konstruksi jalan raya. Kampong Jawa, di tepi sungai Rochor, adalah tempat pemukiman pertama orang Jawa di Singapura. Selain Kampong Jawa, Kallang Airport Estate dikenal sebagai tempat pemukiman orang Jawa juga. Di Kallang, mereka hidup berdampingan dengan orang Melayu dan Cina.
Menurut Lockard [1971], orang Jawa di Kampong Jawa tumbuh dari 38 orang pada 1825 hingga 5885 orang di tahun 1881. Puncak pendudukan orang Jawa adalah tahun 1931 dimana hampir 170000 orang Jawa tinggal di Singapura. Selang 16 tahun, jumlah orang Jawa menurun drastis dari 169311 pada 1931 hingga 24715 pada 1947. Penyebabnya
(1) depresi ekonomi yang mendorong berdirinya perkebunan skala kecil dimana mereka tidak lagi menggunakan buruh
(2) meningkatnya kondisi ekonomi buruh
(3) tekanan internasional yang memprotes perburuhan.
Bahasa Jawa. Data tahun 1985 menunjukkan bahwa sekitar 800 dari 21230 (3.8%) orang Jawa di Singapura masih melestarikan bahasa Jawa. Orang Jawa di Singapura lebih fasih berbahasa Melayu. Bahasa Jawa masih dilestarikan oleh generasi tua dan menularkan beberapa kosakata kepada anak-cucunya. Bahasa Jawa bukan alat komunikasi yang umum karena pengaruh budaya Melayu cukup kuat. Di samping asimilasi dengan budaya Melayu itu, bahasa Jawa memiliki tiga tingkatan (ngoko, ngoko alus, kromo inggil) sehingga “agak” mempersulit pembelajar bahasa Jawa. Lingkungan non-Jawa barangkali lingkungan yang tidak kondusif untuk belajar bahasa Jawa; hal ini juga terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Jakarta. Di Singapura, pada akhirnya, bahasa Jawa menjadi langka.
Melayu logat Jawa (Pertengahan 2005). Di sebuah kedai prata, selatan NUS – Clementi, saya ngobrol dengan seorang waiter. Ia berasal dari Johor, dan berumur sekitar 40an. Ia bercerita tentang masa lalu: seorang pemuda Jawa datang ke Singapura tahun 1950an, lalu menatap di Johor Bahru. Pemuda ini menikah dengan perempuan Melayu. Meski demikian, pemuda ini tetap mempraktikkan bahasa Jawa di rumah. Jawa menjadi alat komunikasi di rumah, selain bahasa Melayu. Pemuda ini adalah ayahnya.
Dibesarkan di Malaysia dan berbahasa Melayu dengan lancar, awalnya saya rasa dia tidak akan bisa berbahasa Jawa. Tapi sungguh mengejutkan: dia bisa! Dan itu kali pertama saya mendengar bahasa Jawa dengan aksen melayu!
Email Krama Inggil (Awal 2005). Seseorang mengirimi saya e-mail dan memberikan komentar dalam artikel “Apakah Jawa itu?“. Ia menulis dalam krama inggil (bahasa Jawa halus yang biasanya dipakai ketika kita bercakap-cakap dengan orang yang lebih tua atau dengan orang yang lebih dihormati). Saya terpukau dengan bahasa Jawanya. Meski ia warga Singapura, ia masih mampu berkomunikasi dalam kromo inggil. Saya jarang menggunakan krama inggil. Jadi, ketika membaca email-emailnya, saya berusaha menjejak setiap kata, mengartikan sepotong-sepotong dan membalas emailnya dengan bahasa campuran ngoko alus dan krama inggil.
“Oh, bahasa Jawa masih “bernafas” di Singapura” batin saya.
Bahasa Jawa menduduki peringkat 12 sebagai bahasa yang paling banyak dipakai di dunia – dipakai oleh lebih dari 75.5 juta orang yang tersebar di Indonesia, Malaysia, Singapura, New Caledonia dan Suriname.
Pustaka
– Abdul Aziz Johari, Javanese People in Singapore, Academic Exercise, Dept. of History NUS, 1965.
– Craig A. Lockard, The Javanese As Emigrant: Observations on the Development of Javanese Settlements Overseas, Cornell Southeast Asia Program, April 1971.
Sejarah Kampung "Padang Jawa" di Selanggor Malaysia

Sejarah Kampung "Padang Jawa" di Selanggor Malaysia

‘Kampung Padang Jawa’ di Selangor Malaysia yang Konon Didirikan Oleh Seorang Pendekar dari Jawa Tengah

Jangan salah sangka dulu, karena yang dimaksud ini bukan kampung di Malaysia yang khusus untuk orang Indonesia. Kampung unik yang kami kunjungi beberapa waktu yang lalu ini, dihuni oleh sekitar belasan hingga puluhan ribu penduduk ini bernama ‘Kampung Padang Jawa’.
Penduduknya tidak 100% berisi orang Indonesia, bahkan sebetulnya  prosentase atau jumlah WNI yang tinggal disana kalah jauh dibanding penduduk berkewarganegaraan Malaysia. Namun kalau ditarik mundur tiga atau empat generasi silam, kebanyakan nenek moyang penduduk asli mereka adalah orang Indonesia.

Sekilas tentang Kampung Padang Jawa

Secara fisik, kampung ini memang terlihat berbeda dibanding gedung-gedung tinggi di luar kampung. Di dalam kampung, tepatnya di jalan utamanya sangat lebar tersebut, tidak terdapat gedung-gedung megah seperti di bagian lain di kota Shah Alam. Kota Shah Alam adalah Ibukota Selangor, Malaysia.

IMG_20150807_145458_1439114593589
Memasuki jalan utama Kampung Padang Jawa
Kampung Padang Jawa berdekatan dengan kota baru Klang dan kota besar Shah Alam. Jaraknya dari Klang lebih kurang 8 Km dan dari Shah Alam lebih kurang 4 Km. Kampung ini sangat unik karena berada di bawah pemerintahan 2 kota, yaitu satu bagian di bawah Daerah Klang dan sebagian lagi masuk daerah Shah Alam. Garis perbatasan di antara kedua daerah ini terletak di tengah-tengah kampung ini.
Kampung ini juga agak istimewa kerana mempunyai 3 jalan masuk ke kampung ini, yaitu dari Klang, Shah Alam dan Lebuh Raya Persekutuan (Federal Highway)
Bila kita menyusuri Kampung Padang Jawa, toko dan rumah penduduk yang berjajar di jalan utama paling banyak dibangun dalam dua lantai, dan hanya sedikit rumah susun sederhana yang dibangun di kampung itu. Sebagai catatan, meski terdapat gedung-gedung tinggi di pusat kotanya, Shah Alam tidak seperti Jakarta yang sangat dipadati gedung-gedung pencakar langit.
Shah Alam sebagai ibukota Selangor ini memang memiliki gedung-gedung megah, meski tak seberapa banyak. Serta, penduduknya tidak sepadat kota-kota besar di Indonesia. Kota Shah Alam adalah kota yang tergolong besar di Malaysia yang sarat dengan sejarah panjang berkembangnya hingga dianggap sebagai salah satu ‘bandar’ terkemuka di Malaysia.
Kampung Padang Jawa merupakan salah satu cikal bakal berkembangnya Shah Alam, sehingga tidak mengherankan bila kampung unik ini akhirnya berada di tengah pertumbuhan dua kota, Shah Alam dan kota Klang. Dua kota yang terus berkembang karena disokong penuh oleh Pemerintah Malaysia. Sedangkan kampung ini terkesan tumbuh lebih secara natural, tanpa pacuan pembangunan gedung-gedung besar pencakar langit oleh pemerintah. Tak pelak, saat ini kawasan tersebut dikelilingi denyut pembangunan proyek fisik serta gedung-gedung bertingkat di luar kampung tersebut. Namun jangan berpraduga tentang diskriminasi, karena sarana fisik standar yaitu jalan dan fasilitas transportasi tetap mendapatkan porsi anggaran yang mencukupi dari pemerintah.

IMG_20150807_153232_1439114239197

Sebuah surau tua di Kampung Padang Jawa, di bawahnya digunakan untuk Taman Kanak-Kanak

Sejarah Kampung Padang Jawa

Sejak ratusan tahun yang lalu, Shah Alam sudah mulai didatangi oleh para pendatang dari Indonesia. Mayoritas dari mereka berasal dari pulau Jawa, dan sebagian lainya dari Sumatera (terutama dari daerah Padang, Medan dan Aceh).
Apakah karena banyak pendatang dari Jawa dan Sumatera, hingga akhirnya dinamakan Kampung Padang Jawa?
Sejarah silam asal usul Padang Jawa dimulai sejak berdirinya lebih 160 tahun lalu.
Di awal pembukaannya, Padang Jawa merupakan tanah pertanian dan terkenal dengan dusun buah-buahan, pada waktu itu banyak penduduknya yang bekerja sebagai pengumpul getah karet. Sebelum Sungai Klang dicemari oleh limbah pembangunan kota-kota disekitarnya, rata-rata penduduk di Padang Jawa bekerja sebagai nelayan yang menjadikan ikan air tawar, udang galah dan udang belacan sebagai hasil tangkapan.
Pendekar ‘Wak Kairan’ sebagai pendiri Padang Jawa, berasal dari Jawa Tengah
Asal muasalnya Padang Jawa ini dimulai oleh seorang pendekar yang terkenal dengan ilmu persilatan dan gagah berani, malah dikabarkan memiliki kekuatan yang sukar ditandingi.
Wak Kairan  yang berasal dari Jawa Tengah adalah individu pertama yang memulai penebasan dan pembukaan kampung, dengan cara membersihkan hutan dan semak belukar. Singkat cerita, beliaulah yang pertama kali mewujudkan Padang Jawa ini. Dikhabarkan Wak Kairan mempunyai ilmu persilatan yang sangat tinggi dan memiliki tenaga yang amat luar biasa. Beliau diceritakan malah pernah bertarung dengan musuhnya di kawasan stasiun kereta api selama tujuh hari tujuh malam tanpa berhenti rehat. Dikisahkan pula, beliau mampu menarik dan memberhentikan kereta api yang sedang bergerak.
Ketika Wak Kairan meninggal dunia, jasadnya dikebumikan di tanah pemakaman di ujung kampung. Selepas itu kuburnya dipindahkan ke kawasan tanah pemakaman baru yang terletak bersebelahan dengan Lebuh Raya Persekutuan.
Asal nama Padang Jawa
Merujuk pada kamus Bahasa Jawa, ‘Padang’ membawa arti membersihkan atau membuat terang suatu kawasan, dan upaya pembukaan itu dilakukan oleh Wak Kairan yang tak lain adalah seorang pendekar yang berasal dari Jawa. Pada perjalanannya, itu kampung ini kemudian dinamakan Padang Jawa.
Setelah era kemerdekaan Malaysia, kawasan-kawasan ini dijaga di bawah satu ketua kampung dengan menggunakan nama Kampung Padang Jawa.

Sejarah Kedatangan Orang Jawa Ke Johor

Sejarah Kedatangan Orang Jawa Ke Johor

Rakyat Johor terdiri dari pelbagai suku Melayu. Yang domain ialah suku Jawa sehingga ada yang masih pekat atau totok. Meskipun begitu,  tidak semua berasal-usul dari keluarga marhein dari Pulau Jawa. Ada yang terdiri dari golongan berpendidikan tinggi agama, pendakwah dan juga petani yang berjaya. Tetapi kerana keluasan tanah terhad di Pulau Jawa maka mereka pun berhijrah ke Negeri Johor.  Kini, mereka adalah rakyat Johor yang berjaya dan maju dengan hasil perkebunan. Kebanyakan anak mereka berpendidikan tinggi dan menjawat perkhidmatan awam negeri Johor dan Persekutuan.






Mengikut sejarah, kedatangan suku Jawa ke Johor adalah hasil galakan dari Temenggong Daing Ibrahim (1810-1862) ketika  membuka ladang gambir di Johor sekitar 1830-an setelah perusahaan gambir di Singapura gagal kerana kekurangan tanah dan kayu-kayan yang menjadi bahan bakar utama perusahaan itu. Dasar menggalakkan pekerja atau kuli bukan sahaja dari Jawa tetapi juga dari Cina bagi memajukan tanaman gambir melalui sistem kangkar yang diperkenalkan beliau.

 Usaha dan dasar memajukan Johor melalui perdagangan hasil hutan dan perladangan gambir ini serta dasar membawa masuk pekerja luar telah diteruskan oleh anakanda baginda, Temenggong Abu Bakar (1833-1895). Di zaman Temenggong Abu Bakar dasar ini dan pembangunan yang terhasil sampai ke puncak klimaks pada tahun 1860 sehingga 1895. Dasar membangunkan negeri yang diterajui oleh Temenggong Daing Ibrahim telah diteruskan oleh cucuanda baginda Sultan Ibrahim ibni Sultan Abu Bakar(1873-1959). 

Suku Jawa digalakkan datang ke negeri Johor untuk bekerja dan membuka kebun. Disamping sebagai pekerja dan pekebun mereka juga menjadi pengimbang pola jumlah dan taburan pekerja atau pekebun bangsa Cina. Satu surat khas terkenal dengan nama Surat Kebenaran Membuka Kebun  dikeluarkan oleh pejabat Temenggong dan kemudian Pejabat Tanah Negeri Johor semasa pemerintahan Temenggong Abu Bakar.  Pekerja atau orang Cina dikawal dengan peraturan Kangkar dan Sistem Kangcu manakala orang Jawa dikawal oleh pemimpin tradsional iaitu penghulu dan orang-orang Kaya selaku pembesar dan wakil raja.

Orang Jawa juga banyak dibawa masuk oleh Syarikat Konstantinople milik jutawan Arab bernama As Sagof yang mendapat konsesi membuka ladang seluas daerah Pontian. Beliau ialah sahabat baik kepada Maharaja Abu Bakar dan beliau telah membawa masuk pekerja-pekerja Jawa melalui Sistem Haji di mana beliau memberi kemudahan menunaikan fardu haji kepada pekerja Jawa melalui tabungan upah bekerja di ladang kelapanya di Pontian. Pekerja Jawa boleh menunaikan fardu haji apabila wang perbelanjaan yang dikumpulkan mencukupi. Mereka juga diberi kemudahan menunaikan haji terlebih dahulu dan kemudian bekerja untuk melangsaikan hutang.  Sesiapa yang telah menunaikan fardu haji diberi pilihan untuk pulang ke kampung halaman atau terus menetap atau bekerja mengumpul wang sebagai bekalan apabila kembali ke tanahair dengan bekerja di ladang Syarikat Konstantinople. 

Perusahaan dan perniagaan syarikat ini amat terkenal dan terbesar di Asia Tenggara ketika itu. Perdagangan yang diusahakan oleh syarikat ini termasuk perkapalan, pengangkutan laut, perladangan dan juga perniagaan barang-barang nusantara dan juga dari Cina ke Timur Tengah sehingga ke Konstantinople di Turki. Keluarga As Sagof memiliki puluhan kapal sendiri dan sebahagian besarnya berkuasa dan berinjin wap. Ladang-ladangnya terdapat di Pulau Muluku, Kalimatan atau Borneo, Pulau Jawa, Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu khususnya di Johor. Pejabat-pejabat pengurusan syarikat ini terdapat di Turki, Saudi Arabia, Yemen, India, Sumatera, Pulau Jawa dan di Singapura. Pejabat terbesarnya terletak di Konstantinople Turki dan di sebelah timur terletak di Singapura dan ditengah-tengah rangkaian perdagangannya yang terletak di Yemen dan juga India.

 Di Johor, kemudahan atau Sistem Haji yang diperkenalkan  oleh Syarikat Konstantinople mendapat sambutan hangat dari penduduk Jawa yang beragama Islam kerana tiada berunsur penipuan dan penganiayaan. Berbondong-bondong orang Jawa mendaftar diri menjadi pekerja Syarikat Perladangan Konstantinople ini. Sebahagiannya terus menetap dan menjadi rakyat Johor.

 Selain daripada itu, fakta penarik orang Jawa datang ke Johor juga adalah disebabkan oleh galakan Inggeris yang telah mewar-warkan kegemilangan dan kemakmuran negeri Singapura dan Johor yang diperintah oleh raja Melayu yang moden dan adil seperti pemerintahan Inggeris ketika mentadbir pulau Jawa menjaga kepentingan Belanda yang sedang terlibat dengan peperangan Napoleon. Inggeris telah mengambil kesempatan mempengaruhi orang Jawa agar menolak Belanda dan menerima Inggeris terus memerintah Jawa. Ketegasan Belanda mengambil semula negeri-negeri taklukannya setelah Perang Napoleon berakhir telah mendorong Inggeris berusaha meluaskan pengaruhnya di Nusantara.

 Sistem tanaman paksa oleh Belanda  pada tahun 1820-an yang telah memaksa penduduk Jawa menanam hanya kopi, teh dan rempah ratus sahaja telah menimbulkan kemarahan orang Jawa yang menghadapi kekurangan bahan makanan. Bagi mengelak kebuluran, ramai orang Jawa telah berhijrah ke Semenanjung Tanah Melayu dan tinggal di negeri Melayu dibawah pengaruh pentadbiran Inggeris. Kebanyakan orang Jawa yang kuat pegangan agama dan enggan tunduk di bawah pengaruh pentadbir kafir (Belanda) telah memilih Johor untuk menetap. Mereka telah datang secara berperingkat-peringkat dengan menaiki kapal milik kerabat diraja yang dikenali sebagai sadagar raja yang mendapat kebenaran khas belayar dan berdagang di nusantara oleh Belanda.

Mengikut catatan sejarah, gerombolan atau gelombang penghijrahan orang Jawa ke Semenanjung Tanah Melayu yang paling aktif ialah pada tahun 1835 sehingga 1900. Ini adalah berikutan Sistem Rodi atau Tanaman Paksa yang dipaksakan oleh Belanda dan pengeluaran hukuman berat kepada sesiapa yang engkar perintah sehingga sampai ke tahap mengancam nyawa. Keluarga kerabat Diraja Cerebon sebagai contoh merupakan kumpulan saudagar Raja yang paling aktif kerana mereka mahir berlayar dan berdagang di serata teluk dan rantau serta pelabuhan-pelabuhan  di Nusantara.  Berdagang dan berdakwah adalah budaya hidup mereka. Mereka mewarisi ilmu pelayaran, perdagangan di samping penyibaran agama sejak turun-temurun dan berasal-usul daripada sheikh-sheikh dan pedagang Arab. 

Mengikut catatan Belanda, Hj Ibrahim pernah berulang alik dari Jawa ke Melaka pada tahun 1800-1825 kemudian anaknya Lebe  Mat (Lebai Muhamad) adalah antara nakhoda Jawa berdarah Arab (Saudagar Raja Cerebon) yang telah membawa masuk orang-orang Jawa ke Semenangjung Tanah Melayu. Mereka mempunyai jadual belayar yang tetap dan berulang alik dari Pulau Jawa sejauh Maluku, Tuban, Cerebon, Betawi, Siak, Singapura, Muar, Melaka, Selangor, Kelang, Bruas dan Kuala Kedah dari tahun 1800-1879. Muar telah dipilih menjadi penempatan keluarga mereka kerana terdapat perkampungan Arab di situ.

Kampung Jawa Muar (Kg Bakri) contohnya telah dibuka pada tahun 1869 oleh Hj Md Noh anak Lebai Muhamad bin Hj Ibrahim. Sebelum itu,  Penghulu Jabar yang berasal dari Jawa Timur telah mengikut kumpulan pelayaran saudagar raja Cerebon ke Parit Bakar Muar pada tahun 1860 dan membuka Parit Jawa pada 1865. Rombongan dan penghijrahan dari Jawa terus berlaku pada tahun-tahun berikutnya apabila Gerisik, Bukit Gambir, Sungai Raya dan beberapa perkampungan dan desa dibuka oleh orang Jawa di Muar dan di sepanjang pantai barat Johor atas galakan Maharaja Abu Bakar yang kemudian bergelar Sultan Johor (1885).

Gerombolan kedua orang Jawa berhijrah ke Johor, sebelah pantai timur Johor dan di sepanjang pantai barat Semenangjung adalah pada tahun 1915 sehingga hujung 1930-an berikutan pembukaan ladang getah, nenas dan teh tetapi penanaman teh tidak digemari oleh orang Jawa kerana mereka mempunyai pengalaman pahit dan hitam di Jawa sehingga pengusaha-pengusaha dan peladang Inggeris terpaksa membawa masuk perkerja dari India bekerja di ladang teh mereka. 

Pada tahun 1885, bermula sejak Maharaja Abu Bakar bergelar Sultan, semua peneroka Jawa dibenarkan menamakan kampong dan desa yang dibuka oleh mereka mengikut nama atau tempat asal usul mereka kerana kesetiaan mereka tidak diragui lagi dan Sultan Abu Bakar telah mendapat mandat dan daulat sultan secara rasmi dari kerajaan Inggeris.

Ketika Zaman Jepun (1942-1945) terdapat juga catatan sejarah di mana banyak tentera paksa berketurunan Jawa yang dibawa masuk dari pulau Jawa ke Semenanjung Tanah Melayu gagal pulang dan akhirnya terus menyusup dan menetap sebagai penduduk di sini. Mereka diterima dengan baik kerana terdapat suku Jawa yang telah lama bermastautin malah diakui sebagai rakyat asal Negeri-negeri Tanah Melayu.

Tahun (2012),  mengikut perincian dari statistik pembacian Jabatan Perangkaan Negeri, Johor (2010), orang Melayu adalah sebanyak 48%, Cina 40% India 8% dll bangsa 4%.  Pecahan Suku Melayu daripada sejumlah 48% itu ialah suku Jawa  sebanyak 50%, suku Melayu Bugis 12%, Melayu Johor 30% dll 8% . Boleh dikatakan orang Melayu suku Jawa adalah tunjang kepada kemajuan dan pembangunan negeri Johor. Mereka mencurahkan kesetiaan yang tidak berbelah bahagi kepada kerajaan negeri dan ketika ini mereka juga menjawat jawatan tinggi dalam banyak jabatan dan berpengaruh dalam parti politik yang diterajui oleh UMNO Johor. Mereka dengan bangga mengaku sebagai bangsa Melayu dan berasal-usul dari suku Jawa.


Sunday, May 28, 2017

Sejarah Perjuangan Orang Jawa Di Negara Suriname


Sejarah Perjuangan Orang Jawa Di Negara Suriname Jika kita berbicara mengenai salah satu negara di amerika selatan, maka ingatan kita tertuju pada dua negara kuat sepakbola, Brasil dan Argentina. Memang dalam hal sepakbola, dua negara tersebut adalah negara dengan bakat pesepakbola terbanyak di dunia. Namun ada satu lagi ingatan kita, yaitu Suriname, negara di amerika selatan ini adalah negara besar tetapi populasinya masih kecil. Berdasarkan sensus tahun 90, jumlah penduduk negara tersebut hanya sekitar 600 ribuan jiwa.


Cukup kecil jika kita lihat luas wilayahnya, namun ada satu lagi ingatan kita mengenai Suriname. Tak lain dan tak buka adalah orang Indonesia khususnya bangsa Jawa. Memang di negara tersebut, populasi penduduk jawa sekitar 10 % dari jumlah keseluruhan penduduk suriname.

Namun tahukah kamu bagaimana sejarah perjuangan orang jawa di Suriname ? Perjuangan dan harus terpisah dari keluarga adalah cerita lain tentang bangsa jawa di Suriname. Awal mula orang orang jawa di Suriname adalah ketika kapal kapal Belanda menangkut bangsa jawa, dengan iming iming akan dibawa ke sumatra dan akan diberi pekerjaan. Selain hal tersebut, banyak juga yang diculik dan diangkut untuk kerja paksa.

Para pemuda dan pemudi hanya bisa menurut dan menurut, ini tak lain karena mereka jika melawan akan dibunuh. Sebuah kekerasan yang membuat siapa saja yang mendengar pasti akan sedih dan marah dengan Belanda
Saat itu memang Indonesia sedang dijajah oleh Belanda, jadi apa saja yang diperbuat Belanda tak ada yang berabi melawan. Akhirnya para pemuda dan pemudi dari orang orang jawa dibawa dan diangkut oleh kapal belanda, kenapa belanda memilih Suriname ? Karena saat itu negara tersebut juga merupakan jajahan Belanda. 
Belanda paham benar dengan orang Jawa, orang jawa dimata orang Belanda adalah permata, dengan kekuatan serta kekluargaan akan mampu membawa perubahan bagi Suriname. Dan apa yang di prediksi Belanda benar, orang orang jawa mampu membawa negara Suriname menjadi maju, industrinya maju.

Ada sekitar 10ribuan orang jawa yang dibawa ke Suriname namun yang selamat sampai ke tujuan hanya 7000an, ini tak lain karena mereka banyak yang mati. Umumnya mereka mati karena mereka tidak kuat harus berlayar sampai 3 bulan demi mencapai Suriname.  Selain karena sakit, juga karena kekurangan bahan makanan poko, mereka 3 bulan teromabng ambing di tengah lautan. Sungguh pilu sekaligus merinding mendengar cerita tersebut.

Orang orang jawa tetap kuat, sampai akhirnya mereka sampai di Suriname, mereka didata ulang dan diberi tugas berkebun dan pertanian. Setelah 5 tahun, sesuai dengan kontrak, ada yang pulang dan ada yang menetap di Suriname.  Seiring berjalanya waktu, bangsa Jawa di Suriname mampu menjadi tulang punggung negara Suriname. Ketiak Suriname merdeka pada tahun 76, banyak keturunan jawa yang beralih warga negara menajdi Belanda.


Hasil gambar untuk SEJARAH ORANG JAWA DI SURINAME
Di Suriname, masih banyak orang jawa yang menguri uri kebudayaan bangsa jaw,a ada jathilan, wayang, campur sari, kethoprak dan lainya. Bahkan di suriname juga ada distrik dengan menggunakan basa jawa.  Setelah hampir satu abad di negara Suriname, sekarang bangsa jawa sudah makmur dinegara tersebut, rata rata orang jawa disana memiliki dua mobil dan  memiliki kebun yang luas. Tak sia sia perjuangan kakek dan nenek mereka demi anak cucu yang makmur.

Ada pula yang ,menjadi pejabat, menjadi pengacara dan menjadi politisi, bahkan tahun lalu salah satu keturunan jawa mencalonkan diri menajdi presiden, namun sayang kalah.  Nah sekian dari kami, mungkin ini bisa menggambarkan bagaimana negara Suriname dan apa hubunganya dengan bnagsa jawa. 

advertisment